Saat berkunjung ke salah satu pabrik porang di Kabupaten Madiun, Jawa Timur, Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo mengatakan bahwa Presiden Joko Widodo atau Jokowi meminta porang Madiun tak lagi diekspor dalam bentuk umbi ke luar negeri.
“Bapak Presiden minta porang tidak lagi diekspor dalam bentuk umbi. Porang Madiun harus ada proses industrikan sebelum diekespor,” ujar Syahrul Yasin Limpo, saat berkunjung di salah satu pabrik porang di Kabupaten Madiun, Jawa Timur, Jumat, 30 Juli 2021.
Sebab akan lebih baik jika diekspor dalam bentuk olahan lain, terutama dalam bentuk beras shirataki untuk pembuatan mi shirataki, yang populer dari Jepang. Lantas, bagaimana proses pengolahan porang agar bisa jadi bahan pangan?
Melansir cybex.pertanian.go.id, Indonesia umumnya mengekspor porang dalam bentuk chips atau irisan tipis yang nantinya akan diolah di negara tujuan. Saat ini, peminat porang banyak berasal dari Jepang, Cina, Vietnam dan Australia, dengan total ekspor sekitar 11.170 ton.
Sebelum menjadi chip, umbi porang lebih dulu dibersihkan dari kotoran yang menempel, kemudian dikupas dan dicuci dengan air bersih, lalu diiris dengan ketebalan kurang lebih 5 cm, dan dijemur di bawah terik matahari hingga benar-benar kering untuk menghindari timbulnya jamur yang dapat mengurangi kualitas dan harga porang, umumnya porang perlu dijemur kurang lebih lima hari.
Sementara untuk menjadikannya sebagai tepung untuk olahan berbagai makanan, porang musti melewati beberapa proses lanjutan, meliputi:
Tepung porang murni inilah yang kemudian dapat diolah menjadi mi shirataki, bahan campuran membuat mi, tahu Jepang, pembuat daging untuk vegetarian, penguat rasa, bahan pengikat rasa pada bumbu penyebab, bahan lem, edible film, perekat tablet, sampai pembungkus kapsul.
DELFI ANA HARAHAP